MARSHALLnews - Berita pertunangannya dengan pengusaha muda bernama Wang Xiao Fei membuat Barbie Hsu mendapat kritikan pedas. Di micro-blognya, artis ini menerima caci maki.
Aktris Taiwan ini langsung menutup situs pertemanannya pada Rabu malam lalu ketika ia tak lagi sanggup melihat berbagai kata-kata buruk yang ditujukan untuknya. Ia merasa lelah dengan postingan yang menjelek-jelekkan dirinya mengenai hubungan cintanya dengan Wang Xiao Fei.
Kata-kata dalam postingan itu membuat hati pemeran San Chai dalam serial 'Meteor Garden' ini panas. Hsu dituding hanya mencari harta dan oportunis saat memutuskan bertunangan dengan putra dari pengusaha sukses China itu. Ia sudah bertekad untuk menutup micro-blognya. Demikian seperti dikutip dari channelnewsasia , Jumat 12 November 2010.
Melihat Hsu dicaci maki, Wang Xiao Fei tidak tinggal diam. Ia menyerang balik orang-orang yang telah berkata kasar kepada tunangannya itu. Ia sangat marah. "Jika Anda ingin marah, marah sama saya. Jangan bersembunyi," ucapnya. Pertunangan antara Hsu dengan Xiao Fei memang mengejutkan. Mereka memutuskan untuk bertunangan setelah menjalani hubungan selama 20 hari. Pertunangan itu juga membuat Hsu dianggap sebagai orang ketiga yang telah merebut Xiao Fei dari mantan pacarnya, Kitty Zhang. (pet) Baca juga: Tiga Tahun, Pria Ini Cegukan Tiap 2 Detik
VIVAnews
Minggu, 14 November 2010
Pencari Bahtera Nabi Nuh Hilang
Keluarga sadar setelah pada pertemuan peneliti terakhir di Turki, Mackenzie tak hadir.
Gunung Ararat, lokasi penemuan perahu Nabi Nuh (www.noahsarksearch.com)
Donald Mackenzie, salah satu peneliti pencari Bahtera Nuh hilang. Mackenzie sedang menjalani misi seorang diri mencari lokasi terakhir Bahtera yang dalam sejarah dibangun dalam waktu 40 hari dan 40 malam dalam kondisi hujan.
Seperti dilansir news.gather.com, keluarga kehilangan kontak sejak sekitar dua bulan lalu, tepatnya 20 September 2010. Lokasi terakhir, Mackenzie berada di Gunung Ararat, wilayah timur Turki.
Ini bukanlah perjalanan pertama ke lokasi yang dipercaya terdapat perahu raksasa Nabi Nuh bagi peneliti asal Skotlandia itu. Peneliti berusia 40 tahun yang tidak menikah ini meyakini bahwa perahu yang luar biasa itu berada di pegunungan Ararat.
Keluarga baru sadar setelah pada pertemuan peneliti terakhir di Turki, Mackenzie tidak hadir. Tidak ada yang bisa mengonfirmasi ketidakhadiran sang peneliti. Keluarga di Skotlandia pun mengirimkan surat elektronik. Tetapi tidak ada satupun yang dibalas.
Sang ibu yang juga seorang penyanyi, Maggie Jean, meyakini putranya itu selamat dan sukses menemukan Bahtera Nuh. Dia khawatir putranya terluka.
Mackenzie seharusnya mengeksplorasi di wilayah timur Turki, tepatnya di Gunung Ararat. Kontak terakhirnya adalah dengan saudaranya pada 20 September 2010. Perjalanan ini pun bukan untuk pertama kalinya.
Menurut AoLnews.com, Mackenzie berada di lokasi itu karena keyakinannya pada Kejadian Kitab Perjanjian Lama. Dalam kitab disebut Nuh membangun Bahtera agar bisa menyelamatkan keluarganya dan hewan di dunia dari banjir dahsyat.
Ketika air datang, mereka naik sampai semua gunung-gunung ditutupi dan semua kehidupan hancur. Ketika air akhirnya surut, bahtera dikatakan telah datang untuk beristirahat "di pegunungan Ararat."
Pengembaraan terakhir Mackenzie itu di pegunungan Ararat atas permintaan tim eksplorasi dari China dan Turki. Tim eksplorasi ini mengklaim telah berhasil menggali dan masuk ke dalam bangunan struktur kayu milik Bahtera Nuh.
Seperti dilansir news.gather.com, keluarga kehilangan kontak sejak sekitar dua bulan lalu, tepatnya 20 September 2010. Lokasi terakhir, Mackenzie berada di Gunung Ararat, wilayah timur Turki.
Ini bukanlah perjalanan pertama ke lokasi yang dipercaya terdapat perahu raksasa Nabi Nuh bagi peneliti asal Skotlandia itu. Peneliti berusia 40 tahun yang tidak menikah ini meyakini bahwa perahu yang luar biasa itu berada di pegunungan Ararat.
Keluarga baru sadar setelah pada pertemuan peneliti terakhir di Turki, Mackenzie tidak hadir. Tidak ada yang bisa mengonfirmasi ketidakhadiran sang peneliti. Keluarga di Skotlandia pun mengirimkan surat elektronik. Tetapi tidak ada satupun yang dibalas.
Sang ibu yang juga seorang penyanyi, Maggie Jean, meyakini putranya itu selamat dan sukses menemukan Bahtera Nuh. Dia khawatir putranya terluka.
Mackenzie seharusnya mengeksplorasi di wilayah timur Turki, tepatnya di Gunung Ararat. Kontak terakhirnya adalah dengan saudaranya pada 20 September 2010. Perjalanan ini pun bukan untuk pertama kalinya.
Menurut AoLnews.com, Mackenzie berada di lokasi itu karena keyakinannya pada Kejadian Kitab Perjanjian Lama. Dalam kitab disebut Nuh membangun Bahtera agar bisa menyelamatkan keluarganya dan hewan di dunia dari banjir dahsyat.
Ketika air datang, mereka naik sampai semua gunung-gunung ditutupi dan semua kehidupan hancur. Ketika air akhirnya surut, bahtera dikatakan telah datang untuk beristirahat "di pegunungan Ararat."
Pengembaraan terakhir Mackenzie itu di pegunungan Ararat atas permintaan tim eksplorasi dari China dan Turki. Tim eksplorasi ini mengklaim telah berhasil menggali dan masuk ke dalam bangunan struktur kayu milik Bahtera Nuh.
Hingga kini tidak ada catatan temuan orang yang berciri mirip Mackenzie. Interpol dan polisi setempat juga belum mendapatkan informasi terkini. (art)
• VIVAnewsDel Neri: Seharusnya Juventus Memenangkan Pertandinga
Pelatih Bianconeri menilai pasukannya bermain dengan determinasi tinggi sepanjang laga.
Gigi Del Neri - Juventus (Getty Images)
Terkait
Tim
Figur
"Kami bermain cantik," ungkapnya pada SkySport sesaat seusai bubaran pertandingan.
"Saya tidak boleh mengeluh atas hasil ini, tetapi Juventus sebenarnya layak menang."
"Kami berhasil mencetak beragam peluang, tetapi saat ini hanya satu yang bisa menjadi gol."
"Kami tampil penuh determinasi sepanjang pertandingan menghadapi Roma yang belakangan ini bangkit dari tidurnya."
Del Neri kemudian dimintai komentar karena timnya gagal memperbaiki posisi di klasemen sementara Serie A Italia.
"Juventus adalah pusat perhatian saya, bukan klasemen," jawabnya singkat.
>> Halaman Khusus Sepakbola Italia
>> Jadwal - Hasil - Klasemen Serie A Italia
Jumat, 12 November 2010
Marsha Timothy Punya Profesi Baru
Marsha Timothy sukses menggarap film 'Naruto Bersyukur'
Pemain Pintu Terlarang Marsha Timothy (Antara/ Rezza Estily)
MARSHALLnews - Biasanya aktris cantik yang akrab dipanggil Marsha ini menjadi pelakon utama di film layar lebar. Namun kini dia tengah menjajal kemampuannya di belakang layar. Marsha Timothy menyutradarai film pendek berjudul 'Naruto Bersyukur'.
"Waktu syuting seru, saking terlalu bersemangatnya aku saja sampai di lokasi kepagian. Ini skenarionya diadaptasi dari cerpen dan memang kita sudah dikasih tahu, cerita mana yang akan kita kerjakan," kata Marsha Timothy saat ditemui di Blitz Megaplex Grand Indonesia, Jakarta.
Duduk di kursi sutradara merupakan pengalaman pertama bagi bintang 'Pintu Terlarang' itu. Meski sulit, Marsha merasa beruntung dikelilingi oleh orang-orang yang membantunya.
"Jadi sutradara itu susah. Dan film itu nggakmungkin terjadi kalau nggak ada teamwork-nya. Untungnya Mas Garin dan semua departemen yang terlibat sangat membantu, aku benar-benar bersyukur," katanya.
Proses syuting selama 24 jam menjadi sesuatu hal yang menyenangkan untuk Marsha. Selain didukung oleh semua kru film, ia juga didukung oleh kekasihnya Fachri Albar.
"Ai (Fachri Albar) nggak kaget, karena sebelumnya dia juga sudah dikasih tahu kalau aku mau bikin film pendek," ujar Marsha.
Saat ditanya tentang pemilihan karakter 'Bapak' yang diperankan Vincent, Marsha mengatakan bahwa ia ingin melihat manta personel 'Club 80's' itu menjadi sosok yang serius.
"Selama ini aku belum pernah lihat Vincent main serius. Dia sangat berdedikasi tinggi di sini. Dia tampak serius kan di film ini?," ujarnya sambil tersenyum.
Film pendek berjudul 'Naruto Bersyukur' diadaptasi dari cerpen berjudul sama karya Pidi Baiq. Film yang dibintangi Vincent Rompies ini berkisah tentang seorang bapak yang ingin mengadakan syukuran tanpa memiliki alasan kuat, hingga ia mendapati anaknya, Timur, telah menamatkan game 'Naruto'.
Tanpa pikir panjang, si bapak pun segera merayakan kemenangan anaknya dengan mengadakan syukuran. (sj)
"Waktu syuting seru, saking terlalu bersemangatnya aku saja sampai di lokasi kepagian. Ini skenarionya diadaptasi dari cerpen dan memang kita sudah dikasih tahu, cerita mana yang akan kita kerjakan," kata Marsha Timothy saat ditemui di Blitz Megaplex Grand Indonesia, Jakarta.
Duduk di kursi sutradara merupakan pengalaman pertama bagi bintang 'Pintu Terlarang' itu. Meski sulit, Marsha merasa beruntung dikelilingi oleh orang-orang yang membantunya.
"Jadi sutradara itu susah. Dan film itu nggakmungkin terjadi kalau nggak ada teamwork-nya. Untungnya Mas Garin dan semua departemen yang terlibat sangat membantu, aku benar-benar bersyukur," katanya.
Proses syuting selama 24 jam menjadi sesuatu hal yang menyenangkan untuk Marsha. Selain didukung oleh semua kru film, ia juga didukung oleh kekasihnya Fachri Albar.
"Ai (Fachri Albar) nggak kaget, karena sebelumnya dia juga sudah dikasih tahu kalau aku mau bikin film pendek," ujar Marsha.
Saat ditanya tentang pemilihan karakter 'Bapak' yang diperankan Vincent, Marsha mengatakan bahwa ia ingin melihat manta personel 'Club 80's' itu menjadi sosok yang serius.
"Selama ini aku belum pernah lihat Vincent main serius. Dia sangat berdedikasi tinggi di sini. Dia tampak serius kan di film ini?," ujarnya sambil tersenyum.
Film pendek berjudul 'Naruto Bersyukur' diadaptasi dari cerpen berjudul sama karya Pidi Baiq. Film yang dibintangi Vincent Rompies ini berkisah tentang seorang bapak yang ingin mengadakan syukuran tanpa memiliki alasan kuat, hingga ia mendapati anaknya, Timur, telah menamatkan game 'Naruto'.
Tanpa pikir panjang, si bapak pun segera merayakan kemenangan anaknya dengan mengadakan syukuran. (sj)
SUMBER VIVAnews
Sabtu, 23 Oktober 2010
Marga Arab Hadramaut
Marga Arab Hadramaut
Suku Arab-Indonesia adalah warga negara Indonesia yang memiliki keturunan etnis Arab dan etnis pribumi Indonesia. Pada mulanya mereka umumnya tinggal di perkampungan Arab yang tersebar di berbagai kota di Indonesia — misalnya di Jakarta (Pekojan), Bogor (Empang), Surakarta (Pasar Kliwon), Surabaya (Ampel), Gresik (Gapura), Malang (Jagalan), Cirebon (Kauman), Mojokerto (Kauman), Yogyakarta (Kauman) dan Probolinggo (Diponegoro),dan Bondowoso — serta masih banyak lagi yang tersebar di kota-kota seperti Palembang, Banda Aceh, Sigli, Medan, Banjarmasin, Makasar, Gorontalo, Ambon, Mataram, Kupang, Papua dan bahkan di Timor Timur. Pada jaman penjajahan Belanda, mereka dianggap sebagai bangsa Timur Asing bersama dengan suku Tionghoa-Indonesia dan suku India-Indonesia, tapi seperti kaum etnis Tionghoa dan India, tidaklah sedikit yang berjuang membantu kemerdekaan Indonesia.
Sejarah kedatangan
Setelah terjadinya perpecahan besar diantara umat Islam yang menyebabkan terbunuhnya khalifah keempat Ali bin Abi Thalib, mulailah terjadi perpindahan (hijrah) besar-besaran dari kaum keturunannya ke berbagai penjuru dunia. Ketika Imam Ahmad Al-Muhajir hijrah dari Irak ke daerah Hadramaut di Yaman kira-kira seribu tahun yang lalu, keturunan Ali bin Abi Thalib ini membawa serta 70 orang keluarga dan pengikutnya.
Sejak itu berkembanglah keturunannya hingga menjadi kabilah terbesar di Hadramaut, dan dari kota Hadramaut inilah asal-mula utama dari berbagai koloni Arab yang menetap dan bercampur menjadi warganegara di Indonesia dan negara-negara Asia lainnya. Selain di Indonesia, warga Hadramaut ini juga banyak terdapat di Oman, India, Pakistan, Filipina Selatan, Malaysia, dan Singapura.
Terdapat pula warga keturunan Arab yang berasal dari negara-negara Timur Tengah dan Afrika lainnya di Indonesia, misalnya dari Mesir, Arab Saudi, Sudan atau Maroko; akan tetapi jumlahnya lebih sedikit daripada mereka yang berasal dari Hadramaut.
Perkembangan di Indonesia
Kedatangan koloni Arab dari Hadramaut ke Indonesia diperkirakan terjadi sejak abad pertengahan (abad ke-13), dan hampir semuanya adalah pria. Tujuan awal kedatangan mereka adalah untuk berdagang sekaligus berdakwah, dan kemudian berangsur-angsur mulai menetap dan berkeluarga dengan masyarakat setempat. Berdasarkan taksiran pada 1366 H (atau sekitar 57 tahun lalu), jumlah mereka tidak kurang dari 70 ribu jiwa. Ini terdiri dari kurang lebih 200 marga.
Marga-marga ini hingga sekarang mempunyai pemimpin turun-temurun yang bergelar “munsib”. Para munsib tinggal di lingkungan keluarga yang paling besar atau di tempat tinggal asal keluarganya. Semua munsib diakui sebagai pemimpin oleh suku-suku yang berdiam di sekitar mereka. Di samping itu, mereka juga dipandang sebagai penguasa daerah tempat tinggal mereka. Di antara munsib yang paling menonjol adalah munsib Alatas, munsib Binsechbubakar serta munsib Al Bawazier.
Saat ini diperkirakan jumlah keturunan Arab Hadramaut di Indonesia lebih besar bila dibandingkan dengan jumlah mereka yang ada di tempat leluhurnya sendiri. Penduduk Hadramaut sendiri hanya sekitar 1,8 juta jiwa. Bahkan sejumlah marga yang di Hadramaut sendiri sudah punah – seperti Basyeiban dan Haneman – di Indonesia jumlahnya masih cukup banyak.
Keturunan Arab Hadramaut di Indonesia, seperti negara asalnya Yaman, terdiri 2 kelompok besar yaitu kelompok Alawi (Sayyidi) keturunan Rasul SAW (terutama melalui jalur Husain bin Ali) dan kelompok Qabili, yaitu kelompok diluar kaum Sayyid. Di Indonesia, terkadang ada yang membedakan antara kelompok Sayyidi yang umumnya pengikut organisasi Jamiat al-Kheir, dengan kelompok Syekh (Masyaikh) yang biasa pula disebut “Irsyadi” atau pengikut organisasi al-Irsyad.
Tokoh-tokoh dan peranan
Di Indonesia, sejak jaman dahulu telah banyak di antara keturunan Arab Hadramaut yang menjadi pejuang-pejuang, alim-ulama dan da’i-da’i terkemuka. Banyak di antara para Walisongo adalah keturunan Arab, dan diduga kuat merupakan keturunan kaum Sayyid Hadramaut (Van Den Berg, 1886) atau merupakan murid dari wali-wali keturunan Arab. Kaum Sayyid Hadramaut yang datang sekitar abad 15 dan sebelumnya (Walisongo, kerabat dan ayahanda dan datuk mereka) mempunyai perbedaan fundamental dengan kaum Sayyid Hadramaut yang datang pada gelombang berikutnya (abad 18 dan sesudahnya).
Yang mana kaum Sayyid Hadramaut pendahulu, seperti dilansir Van Den Berg, banyak berasimilasi dengan penduduk asli terutama keluarga kerajaan-kerajaan Hindu dalam rangka mempercepat penyebaran agama Islam, sehingga keturunan mereka sudah hampir tak bisa dikenali. Sedangkan yang datang abad 18 dan sesudahnya banyak membatasi pernikahan dengan penduduk asli dan sudah datang dengan marga-marga yang terbentuk belakangan (abad 16-17) hingga saat ini sangat mudah dikenali dalam bentuk fisik tubuh dan nama.
Sampai saat ini, peranan warga Arab-Indonesia dalam dunia keagamaan Islam masih dapat terasakan. Mereka — terutama yang merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW — mendapat berbagai panggilan (gelar) penghormatan, seperti Syekh, Sayyid, Syarif (di beberapa daerah di Indonesia menjadi kata Ayip), Wan atau Habib dari masyarakat Indonesia lainnya.
Di samping tokoh-tokoh agama, banyak pejabat negara dan tokoh terkenal Indonesia masa kini yang leluhurnya berasal dari Hadramaut. Nama-nama mereka antara lain:
AR Baswedan (Menteri Penerangan 1947)
Abdurahman Saleh (Jaksa Agung,2004-2007)
Ahmad Albar (Artis penyanyi rock kelompok God Bless)
Ali Alatas (Menteri Luar Negeri, 1988-1998)
Alwi Shihab (Menteri Luar Negeri, 1999-2001; dan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, 2004-2005)
Assaat (pemangku jabatan Presiden Republik Indonesia pada masa pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta yang merupakan bagian dari Republik Indonesia Serikat (RIS))
Fuad Bawazier (Menteri Keuangan, 1998)
Fuad Hassan (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, 1985-1993)
Husin Umar Alhajri (Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiah Indonesia, 1940-2007)
Mar’ie Muhammad (Menteri Keuangan, 1993-1998)
Mark Sungkar (Aktor Indonesia)
Muchsin Alatas (Artis penyanyi dangdut)
Munir (Ketua LSM Kontras, aktivis anti kekerasan)
Quraish Shihab ( Menteri Agama, 1998)
Rusdy Bahalwan (Mantan pemain dan pelatih Tim Nasional Sepak Bola Indonesia)
Salim Al-Idrus (Pemain Sepak Bola : Pelita Jaya, Persib Bandung,
Saleh Afiff (Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri, 1993-1998)
Ritual ziarah
Di Hadramaut, banyak pemimpin agama yang makamnya diziarahi. Demikian banyaknya jumlah mereka, hingga bila ada seseorang dari Jakarta yang tinggal selama 40 hari di Hadramaut, belum tentu dapat menjangkau seluruh tempat ziarah yang ada.
Tempat ziarah yang paling terkenal adalah “Qabr Hud”, yang menurut kepercayaan orang Hadramaut adalah makam nenek moyang mereka, Nabi Allah Hud AS. Qabr Hud terletak di sebuah lembah, dan terdapat sebuah masjid berdekatan dengannya. Setiap tanggal 11 Sya’ban tahun Hijriah, tempat ini banyak didatangi para penziah. Mereka bukan saja berasal dari Hadramaut, melainkan juga dari berbagai negara yang ‘memiliki’ banyak keturunan Hadramaut. Mereka biasanya tinggal di gedung-gedung bertingkat tiga yang hanya digunakan pada saat acara ziarah. Pada hari itu juga ada pasar raya, yang suasananya kira-kira seperti upacara Sekaten di Yogyakarta.
Menurut tradisi, untuk ziarah ini para peziarah sebaiknya mandi terlebih dahulu atau minimal berwudhu di telaga Hud; yang terletak di bawah makam Nabi Hud. Selama tiga hari, kepemimpinan ziarah di Qabr Hud dilakukan secara berganti-ganti. Hari pertama dipimpin munsib Alhabsji, hari kedua oleh munsib Shahabuddin, dan terakhir yang paling meriah dipimpin oleh munsib Binsechbubakar. Begitu meriahnya akhir ziarah ini, hingga peluru-peluru dihamburkan ke udara. Upacara itu dilakukan oleh para pengawal BinSechbubakar, yang dikenal berpengaruh di Hadramaut.
Secara umum penggolongan Marga Arab Hadramaut itu dikategorikan dalam 4 golongan:
1. Alawiyin (golongan yang mengaku keturunan Rasulullah via keturunan Ahmad bin Isa (AlMuhajir)) c/ : Alatas – Alaydrus – Albar – Algadrie – Alhabsyi – AlHamid – AlHadar – AlHadad – AlJufri – Assegaff -Baaqil – Bawazier –Baridwan-BinSechbubakar-Jamalullail- Maula Heleh/Maula Helah- Shihab
2. Qabili / Qabail / Qabayl (golongan yang memegang senjata) c/ : Abud – AbdulAzis – Addibani – Afiff- Alhadjri – Alkatiri – Ba’asyir- Bachrak -Badjubier- Bafadhal – Bahasuan –Basyaib-Basyeiban- Baswedan-Bin Zagr- Martak-Nahdi- Sungkar
3. Masaikh / Dhaif (gologang pedagang / petani / rakyat kebanyakan) c/ : Baraja
4. Abid (golongan pembantu / hamba sahaya)
Nama-nama marga
Nama-nama marga/keluarga keturunan Arab Hadramaut dan Arab lainnya yang terdapat di Indonesia, antara lain adalah:
A
• Abbad, Abdul Aziz, Abudan, Aglag, Al Abd Baqi, Al Aidid, Al Ali Al Hajj, Al Amri, Al Amudi, Al As, Al As-Safi, Al Ba Abud, Al Ba Faraj, Al Ba Harun, Al Ba Raqbah, Al Baar, Al Bagdadi, Al Baiti, Al Bakri, Al Bal Faqih, Al Barak, Al Bargi, Al Barhim, Al Batati, Al Bawahab, Al Bin Jindan, Al Bin Sahal, Al Bin Semit, Al Bin Yahya, Al Bukkar, Al Fad’aq, Al Falugah, Al Gadri, Al Hadi, Al Hadi, Al Halagi, Al Hasani, Al Hasyim, Al Hilabi, Al Hinduan, Al Huraibi, Al Aydrus, Al Jabri, Al Jaidi, Al Jailani, Al Junaid, Al Kalali, Al Kalilah, Al Katiri, Al Khamis, Al Khatib, Al Kherid, Al Madhir, Al Mahdali, Al Mahfuzh, Al Matrif, Al Maula Dawilah, Al Maula Khailah, Al Munawwar, Al Musawa, Al Mutahhar, Al Qadri, Al Qaiti, Al Qannas, Al Rubaki, Al Waini, Al Yafi’ie, Al Yamani, AlMathori, AlMukarom, Ambadar, Arfan, Argubi, Askar, Assa’di, Assaili, Asy Syarfi, Attamimi, Attuwi, Azzagladi,al Dames
B
• Ba Abdullah, Ba Attiiyah, Ba Atwa, Ba Awath, Ba Dekuk, Ba’ Dib, Ba Faqih, Ba Sendit, Ba Siul, Ba Sya’ib Bin Ma’tuf Bin Suit, Ba Syaiban, Ba Tebah, Ba Zouw, Ba’asyir, Babadan, Babten, Badegel, Badeges, Ba’dokh, Bafana, Bafadual, Bagaramah, Bagarib, Bagges, Bagoats, Bahafdullah, Bahaj, Bahalwan, Bahanan, Baharmus, Baharthah, Bahfen, Bahmid, Bahroh, Bachrak, Bahsen, Bahwal, Bahweres, Baisa, Bajabir, Bajened, Bajerei, Bajrei, Bajruk, Bakarman, Baksir, Baktal, Baktir, Bal Afif, Baladraf, Balahjam, Balasga, Balaswad, Balfas, Baljun, Balweel, Bamakundu, Bamasri, Bamasak , Bamatraf, Bamatrus, Bamazro, Bamu’min, Banaemun, Banafe, Bana’mah, Banser, Baraba, Baraja, Barakwan, Barasy, Barawas, Bareyek, Baridwan, Barjib, Baruk, Basalamah, Basalim, Basalmah, Basgefan, Bashay, Ba’sin, Baslum, Basmeleh, Basofi, Basumbul, Baswel, Baswer, Basyarahil, Batarfi, Bathef, Bathog, Ba’Tuk, Bawazier, Baweel, Bayahayya, Baya’sut, Bazandokh, Bazargan, Bazeid, Billahwal, Bin Abd Aziz, Bin Abd Samad, Bin Abdat, Bin Abri, Bin Addar, Bin Afif, Bin Ajaz, Bin Amri, Bin Amrun, Bin Anuz, Bin Bisir, Bin Bugri, Bin Coger, Bin Dawil, Bin Diab, Bin Duwais, Bin Faris, Bin Gannas, Bin Gasir, Bin Ghanim, Bin Ghozi, Bin Gozan, Bin Guddeh, Bin Guriyyib, Bin Hadzir, Bin Hafidz, Bin Halabi, Bin Hamid, Bin Hana, Bin Hatrash, Bin Hilabi,Bin Hizam, Bin Hud, Bin Humam, Bin Huwel, Bin Ibadi, Bin Isa, Bin Jaidi, Bin Jobah, Bin Juber, Bin Kartam, Bin Kartim, Bin Keleb, Bin Khalifa, Bin Khamis, Bin Khubran, Bin Mahri, Bin Mahfuzh, Bin Makki, Bin Maretan, Bin Marta, Bin Mattasy, Bin Mazham, Bin Muhammad, Bin Munif, Bin Mutahar, Bin Mutliq, Bin Nahdi, Bin Nahed, Bin Nub, Bin On, Bin Qarmus, Bin Sadi, Bin Said, Bin Sanad, Bin Seger, Bin Seif, Bin Syahbal, Bin Syaiban, Bin Syamil, Bin Syamlan, Bin Syirman, Bin Syuaib, Bin Tahar, Bin Ta’lab, Bin Sungkar, Bin Tebe, Bin Thahir, Bin Tsabit, Bin Ulus, Bin Usman, Bin Wizer, Bin Zagr, Bin Zaidan, Bin Zaidi, Bin Zimah, Bin Zoo, Bukkar,Badziher.
T
• Thalib
G
• Ghana’
H
• Haidrah, Hamde, Hamadah, Harhara, Hatrash, Hubeisy,Hayaze, Hasni, Humaid
J
• Jawas, Jibran, Jabli
K
• Karamah, Kurbi
M
• Magadh, Makarim, Marfadi, Martak, Mashabi, Mugezeh, Munabari, Mahdami,Machdan
N
• Nabhan
S
• Sallum, Shahabi, Shogun, Sungkar, Syaiban, Syammach, Syawik,Syagran.
U
• Ugbah, Ummayyer
Z
• Za’bal, Zaidan, jurhum, Zeban, Zubaidi
Trivia
Yang Dipertuan Agung Malaysia 2001-2006 Tuanku Syed Sirajuddin adalah juga tokoh dari marga Jamalullail, yang leluhurnya berasal dari Hadramaut. Demikian pula dengan Menteri Luar Negeri, Malaysia, Syed Hamid Albar.
Mantan Perdana Menteri Timor Leste dan tokoh sentral partai Fretilin, Mari Alkatiri, adalah juga keturunan Hadramaut.
Di Arab Saudi, banyak keturunan Arab Hadramaut yang menjadi pengusaha-pengusaha sukses, seperti marga-marga Bin Laden (keluarga Osama Bin Laden), Bin zagr, Bin Mahfud, Bawazier dan Nahdi.
Di antara marga-marga Hadramaut dari keturunan Sayyid yang pertama-tama ke Indonesia adalah dari keluarga Basyaiban, yaitu Sayyid Abdul Rahman bin Abu Hafs Umar BaSyaiban BaAlawi pada abad ke-17 Masehi. Ia menikah dengan puteri Sunan Gunung Jati, Syarifah Khadijah. Pernikahan ini akhirnya menurunkan banyak kyai di Indonesia. Abu Hafs Sayyid Umar adalah guru dari Syaikh Nuruddin Ar-Raniri, penasihat utama Sultan Iskandar Thani dari Aceh.
Suku Arab-Indonesia adalah warga negara Indonesia yang memiliki keturunan etnis Arab dan etnis pribumi Indonesia. Pada mulanya mereka umumnya tinggal di perkampungan Arab yang tersebar di berbagai kota di Indonesia — misalnya di Jakarta (Pekojan), Bogor (Empang), Surakarta (Pasar Kliwon), Surabaya (Ampel), Gresik (Gapura), Malang (Jagalan), Cirebon (Kauman), Mojokerto (Kauman), Yogyakarta (Kauman) dan Probolinggo (Diponegoro),dan Bondowoso — serta masih banyak lagi yang tersebar di kota-kota seperti Palembang, Banda Aceh, Sigli, Medan, Banjarmasin, Makasar, Gorontalo, Ambon, Mataram, Kupang, Papua dan bahkan di Timor Timur. Pada jaman penjajahan Belanda, mereka dianggap sebagai bangsa Timur Asing bersama dengan suku Tionghoa-Indonesia dan suku India-Indonesia, tapi seperti kaum etnis Tionghoa dan India, tidaklah sedikit yang berjuang membantu kemerdekaan Indonesia.
Sejarah kedatangan
Setelah terjadinya perpecahan besar diantara umat Islam yang menyebabkan terbunuhnya khalifah keempat Ali bin Abi Thalib, mulailah terjadi perpindahan (hijrah) besar-besaran dari kaum keturunannya ke berbagai penjuru dunia. Ketika Imam Ahmad Al-Muhajir hijrah dari Irak ke daerah Hadramaut di Yaman kira-kira seribu tahun yang lalu, keturunan Ali bin Abi Thalib ini membawa serta 70 orang keluarga dan pengikutnya.
Sejak itu berkembanglah keturunannya hingga menjadi kabilah terbesar di Hadramaut, dan dari kota Hadramaut inilah asal-mula utama dari berbagai koloni Arab yang menetap dan bercampur menjadi warganegara di Indonesia dan negara-negara Asia lainnya. Selain di Indonesia, warga Hadramaut ini juga banyak terdapat di Oman, India, Pakistan, Filipina Selatan, Malaysia, dan Singapura.
Terdapat pula warga keturunan Arab yang berasal dari negara-negara Timur Tengah dan Afrika lainnya di Indonesia, misalnya dari Mesir, Arab Saudi, Sudan atau Maroko; akan tetapi jumlahnya lebih sedikit daripada mereka yang berasal dari Hadramaut.
Perkembangan di Indonesia
Kedatangan koloni Arab dari Hadramaut ke Indonesia diperkirakan terjadi sejak abad pertengahan (abad ke-13), dan hampir semuanya adalah pria. Tujuan awal kedatangan mereka adalah untuk berdagang sekaligus berdakwah, dan kemudian berangsur-angsur mulai menetap dan berkeluarga dengan masyarakat setempat. Berdasarkan taksiran pada 1366 H (atau sekitar 57 tahun lalu), jumlah mereka tidak kurang dari 70 ribu jiwa. Ini terdiri dari kurang lebih 200 marga.
Marga-marga ini hingga sekarang mempunyai pemimpin turun-temurun yang bergelar “munsib”. Para munsib tinggal di lingkungan keluarga yang paling besar atau di tempat tinggal asal keluarganya. Semua munsib diakui sebagai pemimpin oleh suku-suku yang berdiam di sekitar mereka. Di samping itu, mereka juga dipandang sebagai penguasa daerah tempat tinggal mereka. Di antara munsib yang paling menonjol adalah munsib Alatas, munsib Binsechbubakar serta munsib Al Bawazier.
Saat ini diperkirakan jumlah keturunan Arab Hadramaut di Indonesia lebih besar bila dibandingkan dengan jumlah mereka yang ada di tempat leluhurnya sendiri. Penduduk Hadramaut sendiri hanya sekitar 1,8 juta jiwa. Bahkan sejumlah marga yang di Hadramaut sendiri sudah punah – seperti Basyeiban dan Haneman – di Indonesia jumlahnya masih cukup banyak.
Keturunan Arab Hadramaut di Indonesia, seperti negara asalnya Yaman, terdiri 2 kelompok besar yaitu kelompok Alawi (Sayyidi) keturunan Rasul SAW (terutama melalui jalur Husain bin Ali) dan kelompok Qabili, yaitu kelompok diluar kaum Sayyid. Di Indonesia, terkadang ada yang membedakan antara kelompok Sayyidi yang umumnya pengikut organisasi Jamiat al-Kheir, dengan kelompok Syekh (Masyaikh) yang biasa pula disebut “Irsyadi” atau pengikut organisasi al-Irsyad.
Tokoh-tokoh dan peranan
Di Indonesia, sejak jaman dahulu telah banyak di antara keturunan Arab Hadramaut yang menjadi pejuang-pejuang, alim-ulama dan da’i-da’i terkemuka. Banyak di antara para Walisongo adalah keturunan Arab, dan diduga kuat merupakan keturunan kaum Sayyid Hadramaut (Van Den Berg, 1886) atau merupakan murid dari wali-wali keturunan Arab. Kaum Sayyid Hadramaut yang datang sekitar abad 15 dan sebelumnya (Walisongo, kerabat dan ayahanda dan datuk mereka) mempunyai perbedaan fundamental dengan kaum Sayyid Hadramaut yang datang pada gelombang berikutnya (abad 18 dan sesudahnya).
Yang mana kaum Sayyid Hadramaut pendahulu, seperti dilansir Van Den Berg, banyak berasimilasi dengan penduduk asli terutama keluarga kerajaan-kerajaan Hindu dalam rangka mempercepat penyebaran agama Islam, sehingga keturunan mereka sudah hampir tak bisa dikenali. Sedangkan yang datang abad 18 dan sesudahnya banyak membatasi pernikahan dengan penduduk asli dan sudah datang dengan marga-marga yang terbentuk belakangan (abad 16-17) hingga saat ini sangat mudah dikenali dalam bentuk fisik tubuh dan nama.
Sampai saat ini, peranan warga Arab-Indonesia dalam dunia keagamaan Islam masih dapat terasakan. Mereka — terutama yang merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW — mendapat berbagai panggilan (gelar) penghormatan, seperti Syekh, Sayyid, Syarif (di beberapa daerah di Indonesia menjadi kata Ayip), Wan atau Habib dari masyarakat Indonesia lainnya.
Di samping tokoh-tokoh agama, banyak pejabat negara dan tokoh terkenal Indonesia masa kini yang leluhurnya berasal dari Hadramaut. Nama-nama mereka antara lain:
AR Baswedan (Menteri Penerangan 1947)
Abdurahman Saleh (Jaksa Agung,2004-2007)
Ahmad Albar (Artis penyanyi rock kelompok God Bless)
Ali Alatas (Menteri Luar Negeri, 1988-1998)
Alwi Shihab (Menteri Luar Negeri, 1999-2001; dan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, 2004-2005)
Assaat (pemangku jabatan Presiden Republik Indonesia pada masa pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta yang merupakan bagian dari Republik Indonesia Serikat (RIS))
Fuad Bawazier (Menteri Keuangan, 1998)
Fuad Hassan (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, 1985-1993)
Husin Umar Alhajri (Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiah Indonesia, 1940-2007)
Mar’ie Muhammad (Menteri Keuangan, 1993-1998)
Mark Sungkar (Aktor Indonesia)
Muchsin Alatas (Artis penyanyi dangdut)
Munir (Ketua LSM Kontras, aktivis anti kekerasan)
Quraish Shihab ( Menteri Agama, 1998)
Rusdy Bahalwan (Mantan pemain dan pelatih Tim Nasional Sepak Bola Indonesia)
Salim Al-Idrus (Pemain Sepak Bola : Pelita Jaya, Persib Bandung,
Saleh Afiff (Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri, 1993-1998)
Ritual ziarah
Di Hadramaut, banyak pemimpin agama yang makamnya diziarahi. Demikian banyaknya jumlah mereka, hingga bila ada seseorang dari Jakarta yang tinggal selama 40 hari di Hadramaut, belum tentu dapat menjangkau seluruh tempat ziarah yang ada.
Tempat ziarah yang paling terkenal adalah “Qabr Hud”, yang menurut kepercayaan orang Hadramaut adalah makam nenek moyang mereka, Nabi Allah Hud AS. Qabr Hud terletak di sebuah lembah, dan terdapat sebuah masjid berdekatan dengannya. Setiap tanggal 11 Sya’ban tahun Hijriah, tempat ini banyak didatangi para penziah. Mereka bukan saja berasal dari Hadramaut, melainkan juga dari berbagai negara yang ‘memiliki’ banyak keturunan Hadramaut. Mereka biasanya tinggal di gedung-gedung bertingkat tiga yang hanya digunakan pada saat acara ziarah. Pada hari itu juga ada pasar raya, yang suasananya kira-kira seperti upacara Sekaten di Yogyakarta.
Menurut tradisi, untuk ziarah ini para peziarah sebaiknya mandi terlebih dahulu atau minimal berwudhu di telaga Hud; yang terletak di bawah makam Nabi Hud. Selama tiga hari, kepemimpinan ziarah di Qabr Hud dilakukan secara berganti-ganti. Hari pertama dipimpin munsib Alhabsji, hari kedua oleh munsib Shahabuddin, dan terakhir yang paling meriah dipimpin oleh munsib Binsechbubakar. Begitu meriahnya akhir ziarah ini, hingga peluru-peluru dihamburkan ke udara. Upacara itu dilakukan oleh para pengawal BinSechbubakar, yang dikenal berpengaruh di Hadramaut.
Secara umum penggolongan Marga Arab Hadramaut itu dikategorikan dalam 4 golongan:
1. Alawiyin (golongan yang mengaku keturunan Rasulullah via keturunan Ahmad bin Isa (AlMuhajir)) c/ : Alatas – Alaydrus – Albar – Algadrie – Alhabsyi – AlHamid – AlHadar – AlHadad – AlJufri – Assegaff -Baaqil – Bawazier –Baridwan-BinSechbubakar-Jamalullail- Maula Heleh/Maula Helah- Shihab
2. Qabili / Qabail / Qabayl (golongan yang memegang senjata) c/ : Abud – AbdulAzis – Addibani – Afiff- Alhadjri – Alkatiri – Ba’asyir- Bachrak -Badjubier- Bafadhal – Bahasuan –Basyaib-Basyeiban- Baswedan-Bin Zagr- Martak-Nahdi- Sungkar
3. Masaikh / Dhaif (gologang pedagang / petani / rakyat kebanyakan) c/ : Baraja
4. Abid (golongan pembantu / hamba sahaya)
Nama-nama marga
Nama-nama marga/keluarga keturunan Arab Hadramaut dan Arab lainnya yang terdapat di Indonesia, antara lain adalah:
A
• Abbad, Abdul Aziz, Abudan, Aglag, Al Abd Baqi, Al Aidid, Al Ali Al Hajj, Al Amri, Al Amudi, Al As, Al As-Safi, Al Ba Abud, Al Ba Faraj, Al Ba Harun, Al Ba Raqbah, Al Baar, Al Bagdadi, Al Baiti, Al Bakri, Al Bal Faqih, Al Barak, Al Bargi, Al Barhim, Al Batati, Al Bawahab, Al Bin Jindan, Al Bin Sahal, Al Bin Semit, Al Bin Yahya, Al Bukkar, Al Fad’aq, Al Falugah, Al Gadri, Al Hadi, Al Hadi, Al Halagi, Al Hasani, Al Hasyim, Al Hilabi, Al Hinduan, Al Huraibi, Al Aydrus, Al Jabri, Al Jaidi, Al Jailani, Al Junaid, Al Kalali, Al Kalilah, Al Katiri, Al Khamis, Al Khatib, Al Kherid, Al Madhir, Al Mahdali, Al Mahfuzh, Al Matrif, Al Maula Dawilah, Al Maula Khailah, Al Munawwar, Al Musawa, Al Mutahhar, Al Qadri, Al Qaiti, Al Qannas, Al Rubaki, Al Waini, Al Yafi’ie, Al Yamani, AlMathori, AlMukarom, Ambadar, Arfan, Argubi, Askar, Assa’di, Assaili, Asy Syarfi, Attamimi, Attuwi, Azzagladi,al Dames
B
• Ba Abdullah, Ba Attiiyah, Ba Atwa, Ba Awath, Ba Dekuk, Ba’ Dib, Ba Faqih, Ba Sendit, Ba Siul, Ba Sya’ib Bin Ma’tuf Bin Suit, Ba Syaiban, Ba Tebah, Ba Zouw, Ba’asyir, Babadan, Babten, Badegel, Badeges, Ba’dokh, Bafana, Bafadual, Bagaramah, Bagarib, Bagges, Bagoats, Bahafdullah, Bahaj, Bahalwan, Bahanan, Baharmus, Baharthah, Bahfen, Bahmid, Bahroh, Bachrak, Bahsen, Bahwal, Bahweres, Baisa, Bajabir, Bajened, Bajerei, Bajrei, Bajruk, Bakarman, Baksir, Baktal, Baktir, Bal Afif, Baladraf, Balahjam, Balasga, Balaswad, Balfas, Baljun, Balweel, Bamakundu, Bamasri, Bamasak , Bamatraf, Bamatrus, Bamazro, Bamu’min, Banaemun, Banafe, Bana’mah, Banser, Baraba, Baraja, Barakwan, Barasy, Barawas, Bareyek, Baridwan, Barjib, Baruk, Basalamah, Basalim, Basalmah, Basgefan, Bashay, Ba’sin, Baslum, Basmeleh, Basofi, Basumbul, Baswel, Baswer, Basyarahil, Batarfi, Bathef, Bathog, Ba’Tuk, Bawazier, Baweel, Bayahayya, Baya’sut, Bazandokh, Bazargan, Bazeid, Billahwal, Bin Abd Aziz, Bin Abd Samad, Bin Abdat, Bin Abri, Bin Addar, Bin Afif, Bin Ajaz, Bin Amri, Bin Amrun, Bin Anuz, Bin Bisir, Bin Bugri, Bin Coger, Bin Dawil, Bin Diab, Bin Duwais, Bin Faris, Bin Gannas, Bin Gasir, Bin Ghanim, Bin Ghozi, Bin Gozan, Bin Guddeh, Bin Guriyyib, Bin Hadzir, Bin Hafidz, Bin Halabi, Bin Hamid, Bin Hana, Bin Hatrash, Bin Hilabi,Bin Hizam, Bin Hud, Bin Humam, Bin Huwel, Bin Ibadi, Bin Isa, Bin Jaidi, Bin Jobah, Bin Juber, Bin Kartam, Bin Kartim, Bin Keleb, Bin Khalifa, Bin Khamis, Bin Khubran, Bin Mahri, Bin Mahfuzh, Bin Makki, Bin Maretan, Bin Marta, Bin Mattasy, Bin Mazham, Bin Muhammad, Bin Munif, Bin Mutahar, Bin Mutliq, Bin Nahdi, Bin Nahed, Bin Nub, Bin On, Bin Qarmus, Bin Sadi, Bin Said, Bin Sanad, Bin Seger, Bin Seif, Bin Syahbal, Bin Syaiban, Bin Syamil, Bin Syamlan, Bin Syirman, Bin Syuaib, Bin Tahar, Bin Ta’lab, Bin Sungkar, Bin Tebe, Bin Thahir, Bin Tsabit, Bin Ulus, Bin Usman, Bin Wizer, Bin Zagr, Bin Zaidan, Bin Zaidi, Bin Zimah, Bin Zoo, Bukkar,Badziher.
T
• Thalib
G
• Ghana’
H
• Haidrah, Hamde, Hamadah, Harhara, Hatrash, Hubeisy,Hayaze, Hasni, Humaid
J
• Jawas, Jibran, Jabli
K
• Karamah, Kurbi
M
• Magadh, Makarim, Marfadi, Martak, Mashabi, Mugezeh, Munabari, Mahdami,Machdan
N
• Nabhan
S
• Sallum, Shahabi, Shogun, Sungkar, Syaiban, Syammach, Syawik,Syagran.
U
• Ugbah, Ummayyer
Z
• Za’bal, Zaidan, jurhum, Zeban, Zubaidi
Trivia
Yang Dipertuan Agung Malaysia 2001-2006 Tuanku Syed Sirajuddin adalah juga tokoh dari marga Jamalullail, yang leluhurnya berasal dari Hadramaut. Demikian pula dengan Menteri Luar Negeri, Malaysia, Syed Hamid Albar.
Mantan Perdana Menteri Timor Leste dan tokoh sentral partai Fretilin, Mari Alkatiri, adalah juga keturunan Hadramaut.
Di Arab Saudi, banyak keturunan Arab Hadramaut yang menjadi pengusaha-pengusaha sukses, seperti marga-marga Bin Laden (keluarga Osama Bin Laden), Bin zagr, Bin Mahfud, Bawazier dan Nahdi.
Di antara marga-marga Hadramaut dari keturunan Sayyid yang pertama-tama ke Indonesia adalah dari keluarga Basyaiban, yaitu Sayyid Abdul Rahman bin Abu Hafs Umar BaSyaiban BaAlawi pada abad ke-17 Masehi. Ia menikah dengan puteri Sunan Gunung Jati, Syarifah Khadijah. Pernikahan ini akhirnya menurunkan banyak kyai di Indonesia. Abu Hafs Sayyid Umar adalah guru dari Syaikh Nuruddin Ar-Raniri, penasihat utama Sultan Iskandar Thani dari Aceh.
Kamis, 14 Oktober 2010
Apa kabar peterpan ?
Reza Peterpan Bikin Band Baru
Dengan mendekamnya Ariel di tahanan, otomatis kegiatan Peterpan menjadi terhenti. Reza, salah satu pentolan Peterpan, bahkan sampai membuat band baru bernama Orange. Sebuah wujud frustasi
Dengan mendekamnya Ariel di tahanan, otomatis kegiatan Peterpan menjadi terhenti. Reza, salah satu pentolan Peterpan, bahkan sampai membuat band baru bernama Orange. Sebuah wujud frustasi?
"Oh itu bukan bentuk frustasi," sanggah Bu Acin, petinggi Musica, label Peterpan, ketika ditemui di Blacksteer FX, Senayan, Rabu (13/10).
Diterangkan oleh Bu Acin, band baru bentukan Reza lebih diarahkan pada luapan kreativitas di luar band Peterpan. Karenanya, manajemen setuju saja dengan hal itu.
"Setiap manusia itu mempunyai kreativitas yang tinggi dan kita memberikan kesempatan dan menyetujui sambil menunggu waktu yang kondusif," tegasnya. (kpl/gum/npy)
Dengan mendekamnya Ariel di tahanan, otomatis kegiatan Peterpan menjadi terhenti. Reza, salah satu pentolan Peterpan, bahkan sampai membuat band baru bernama Orange. Sebuah wujud frustasi
Dengan mendekamnya Ariel di tahanan, otomatis kegiatan Peterpan menjadi terhenti. Reza, salah satu pentolan Peterpan, bahkan sampai membuat band baru bernama Orange. Sebuah wujud frustasi?
"Oh itu bukan bentuk frustasi," sanggah Bu Acin, petinggi Musica, label Peterpan, ketika ditemui di Blacksteer FX, Senayan, Rabu (13/10).
Diterangkan oleh Bu Acin, band baru bentukan Reza lebih diarahkan pada luapan kreativitas di luar band Peterpan. Karenanya, manajemen setuju saja dengan hal itu.
"Setiap manusia itu mempunyai kreativitas yang tinggi dan kita memberikan kesempatan dan menyetujui sambil menunggu waktu yang kondusif," tegasnya. (kpl/gum/npy)
Langganan:
Komentar (Atom)
ADIDAS BARCELONA CITY SERIES 2020
ADIDAS BARCELONA CITY SERIES 2020 Seri Kota adidas pertama kali diluncurkan pada tahun 70-an dan 80-an dan kota-kota bersejarah di seluruh ...
-
ADIDAS BARCELONA CITY SERIES 2020 Seri Kota adidas pertama kali diluncurkan pada tahun 70-an dan 80-an dan kota-kota bersejarah di seluruh ...
-
Juventus Ultras [ edit ] History Juventus supporters during a match. The first real groups of Juventus Football Club supporters ca...
-
kelompok Tifosi dan Ultras JUVENTUS La Curva Scirea Kelompok superter sejati Juventus yang pertama muncul di pertengahan tahu...
